Kolaka Utara,DestinasiNews.id – Jalan setapak yang terjal di Dusun Tobau, Desa Batu Ganda, Kecamatan Lasusua, Rabu (24/6/2026) kemarin, dilalui rombongan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kolaka Utara bersama BPMP Sultra. Mereka datang setelah sebuah video ruang kelas kayu di SD Negeri 13 Lasusua ramai di media sosial.
Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk mendengar. Kepala Disdikbud Kolaka Utara, Alauddin Syah, SE., M.Si, menyebut kunjungan itu sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus penghormatan pada sejarah sekolah tersebut.

“Video yang viral itu justru membuka mata kita semua. Sekolah ini lahir dari keringat warga Tobau sendiri. Sekarang giliran negara yang hadir,” tegas Alauddin Syah.
Cerita SD Negeri 13 Lasusua dimulai tahun 2014. Warga pegunungan Tobau urunan membeli lahan 900 meter persegi, lalu membangun dua ruang kelas dari kayu. Alasannya sederhana: musim hujan membuat anak-anak mereka tidak bisa turun ke sekolah di pusat desa karena jalan terputus.
“Semangat itulah yang membuat sekolah ini dinegerikan pada 2015. Jadi kelas kayu yang viral itu bukan aib, tapi monumen perjuangan warga,” ujar Alauddin Syah.
Pemda Kolut mencatat jejak perhatian itu. Tahun 2020, dua ruang kelas permanen dan satu unit rumah dinas guru dibangun di lokasi yang sama.

“Untuk wilayah yang hanya bisa diakses motor, bangunan itu bukti pemerintah tidak absen,” tambahnya.
Saat ini, SD Negeri 13 Lasusua mengasuh 46 siswa dengan 9 tenaga pendidik. Pekerjaan rumah berikutnya adalah menambah ruang kelas baru. Namun langkah itu tertahan satu syarat krusial: sertifikat lahan.
“Syarat dari pusat jelas. Tidak ada sertifikat, tidak ada bantuan DAK atau revitalisasi. Ini yang sedang kami percepat bersama BPN dan pihak desa,” kata Alauddin Syah.
Perwakilan BPMP Sultra, Abdul Salam, yang ikut merasakan terjalnya medan Tobau mengaku tersentuh.
“Kondisi kelas kayunya memang memprihatinkan. Tapi semangat belajar anak-anak di sini jauh lebih kuat. Fakta ini yang akan kami sampaikan utuh ke kementerian,” ucapnya.
Abdul Salam menjelaskan, pintu program revitalisasi 2026 belum tertutup.
“Kalau sertifikat dan dokumen lain kelar sebelum Agustus, masih bisa kami usulkan. Keputusan akhir tetap lewat seleksi nasional di pusat,” jelasnya.
Bagi Alauddin Syah, viralnya SD Negeri 13 Lasusua adalah pengingat. Bahwa perjuangan pendidikan di Tobau dimulai dari warga, dikuatkan Pemda, dan kini harus dituntaskan bersama pemerintah pusat.
(NRW/DN)


Comment